WhatsApp Icon Gabung WhatsApp Channel Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID – Masyarakat Bugis dikenal memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan alam, termasuk dalam pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional atau yang akrab disebut Pabbura. Di pekarangan rumah orang Bugis, tanaman bukan sekadar penghijau, melainkan sebuah “apotek hidup” yang siap digunakan kapan saja anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan.

Tradisi menanam tanaman obat di sekitar rumah merupakan warisan turun-temurun yang melambangkan kemandirian dalam menjaga kesehatan keluarga. Keberadaan tanaman ini memastikan bahwa pertolongan pertama pada penyakit ringan dapat dilakukan secara alami sebelum memutuskan untuk ke fasilitas kesehatan.

Berikut adalah daftar tanaman obat yang wajib ada di pekarangan rumah orang Bugis beserta manfaatnya menurut tradisi dan kearifan lokal setempat:

1. Daun Kelor (Daun Kiloro)

Tanaman ini hampir selalu ditemukan di setiap rumah orang Bugis, baik di pedesaan maupun di wilayah perkotaan seperti Bone. Selain menjadi bahan utama sayuran pendamping Barobbo, daun kelor memiliki reputasi medis yang luar biasa.

  • Khasiat: Menurunkan panas demam tinggi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak. Secara tradisional, kelor juga dipercaya mampu menetralisir energi negatif dalam tubuh.

2. Kunyit (Unynyi)

Kunyit adalah bumbu dapur yang fungsinya setara dengan kotak P3K di rumah orang Bugis. Tanaman ini sangat mudah tumbuh bahkan hanya dengan media tanam terbatas.

  • Khasiat: Digunakan sebagai antiseptik alami untuk luka luar agar cepat kering. Selain itu, air perasan kunyit sering diminum untuk mengobati sakit perut (maag) dan menjadi bahan utama ramuan pascapersalinan bagi ibu-ibu Bugis agar rahim cepat pulih.

3. Lidah Buaya

Lidah buaya sering ditanam di dalam pot atau langsung di tanah pekarangan karena sifatnya yang tahan banting terhadap cuaca panas Sulawesi Selatan.

  • Khasiat: Sangat ampuh untuk mengobati luka bakar ringan atau terkena percikan minyak panas saat memasak. Lendirnya juga sering dimanfaatkan untuk mendinginkan kulit dan sebagai penyubur rambut alami agar tetap hitam dan kuat.

4. Serai (Sere)

Selain aroma khasnya yang menyedapkan masakan seperti Nasu Likku atau Coto, serai memiliki sifat menghangatkan yang sangat dibutuhkan untuk terapi kesehatan.

  • Khasiat: Air rebusan serai digunakan untuk meredakan nyeri sendi, pegal linu, dan perut kembung. Bagi ibu yang baru melahirkan, serai sering dicampurkan ke dalam air mandi agar tubuh kembali segar dan aroma badan terjaga.

5. Daun Sirih

Dalam budaya Bugis, sirih memiliki nilai adat yang tinggi karena selalu hadir dalam prosesi lamaran atau seserahan. Namun, manfaat medisnya tetap menjadi alasan utama mengapa tanaman ini wajib ditanam.

  • Khasiat: Sebagai obat kumur alami untuk mengatasi sakit gigi dan gusi bengkak. Sirih juga digunakan untuk menghentikan mimisan secara cepat dan sebagai pembersih alami area kewanitaan.

6. Kumis Kucing

Tanaman dengan bentuk bunga yang unik menyerupai kumis kucing ini sering ditanam sebagai pagar hidup atau hiasan di pojok pekarangan.

  • Khasiat: Tanaman ini sangat populer dalam pengobatan tradisional Bugis untuk melancarkan saluran kemih. Air rebusannya dipercaya efektif membantu meredakan gejala kencing batu atau nyeri pinggang akibat kelelahan.

7. Jahe

Baik jahe putih maupun jahe merah selalu menjadi primadona di pekarangan warga Bone. Jahe dianggap sebagai “penghangat” tubuh alami yang paling mujarab.

  • Khasiat: Mengobati masuk angin, meredakan batuk berdahak, serta memberikan rasa hangat pada tubuh saat cuaca dingin atau musim hujan melanda.

8. Daun Jarak

Meski tidak semua rumah memilikinya, daun jarak sering dicari saat ada anggota keluarga, terutama anak-anak, yang mengalami perut kembung.

  • Khasiat: Daun jarak yang telah diolesi minyak goreng dan dipanaskan sebentar di atas api sering ditempelkan pada perut anak untuk mengeluarkan angin dan meredakan rasa tidak nyaman.

Filosofi dan Cara Mengolah Ramuan Tradisional

Bagi orang Bugis, merawat tanaman obat adalah wujud rasa syukur atas kekayaan alam yang diberikan oleh Sang Pencipta. Mengolah tanaman ini biasanya dilakukan dengan cara sederhana, seperti merebus bagian daun, batang, atau rimpang (akar) kemudian meminum airnya selagi hangat.

Kemandirian dalam kesehatan melalui pekarangan obat ini selaras dengan pepatah Bugis yang mengajarkan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi segala kemungkinan hidup. Dengan adanya apotek hidup, masyarakat Bone dan sekitarnya dapat terus menjaga kesehatan jasmani sekaligus melestarikan budaya Pabbura yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.