BONE, BONETERKINI.ID – Keindahan Kaligrafi Syekh Abd Aziz Al-Bah merupakan salah satu daya tarik utama bagi siapa saja yang berkunjung ke Masjid Raya Watampone atau Masjid Al-Jami Al-Ihsan. Ornamen religius yang memukau ini bukan sekadar hiasan dinding, melainkan peninggalan seni Islam kelas dunia yang menyimpan sejarah mendalam di Bumi Arung Palakka.
Banyak jamaah maupun pengunjung yang belum menyadari bahwa maestro di balik karya ini adalah seorang ulama berkebangsaan Mesir. Beliau tercatat pernah bermukim di Bone dan mendedikasikan keterampilannya untuk mendekorasi masjid ini pada rentang tahun 1973 hingga 1974.
Sentuhan tangan maestro ini memberikan identitas visual yang sangat kuat pada masjid peninggalan La Mappanyukki tersebut. Dengan kombinasi gaya tulisan Khat Sulus yang megah dan Khat Diwany yang dinamis, sang kaligrafer berhasil menciptakan harmoni antara teks suci dengan ruang ibadah.
Tulisan-tulisan indah ini mengelilingi dinding masjid, mulai dari area mihrab imam hingga ke serambi bagian belakang. Jejak karya ini bahkan masih dapat divalidasi melalui sisa-sisa penulisan tahun pada dinding serambi belakang, yang hingga saat ini menjadi bukti sejarah keberadaan ulama Mesir tersebut di tanah Bone.
Ragam hias Kaligrafi Syekh Abd Aziz Al-Bah di masjid ini terdiri dari 32 ayat Al-Qur’an yang dipilih secara spesifik. Dominasi ayat diambil dari Surah Al-Baqarah yang mencakup 7 ayat utama, disusul oleh Surah Ali Imran, Surah Al-Nur, hingga Surah Al-Mukminun. Secara tematik, ayat-ayat ini menekankan pada keutamaan memakmurkan masjid.
Pemilihan ayat-ayat ini menunjukkan orientasi pemikiran sang maestro yang ingin menyampaikan pesan tentang balasan berlipat ganda bagi mereka yang menjaga rumah Allah. Selain itu, penempatan ayat tentang arah kiblat dan waktu salat di dekat mihrab menjadi petunjuk teknis ibadah yang artistik.
Selain ayat suci, beliau juga menyeleksi 29 hadis Nabi Muhammad SAW sebagai materi edukasi moral. Hadis-hadis tersebut diletakkan pada posisi strategis, seperti di sekitar mihrab yang membahas tentang keutamaan lafaz tahlil dan pentingnya kebersihan sebagai bagian dari iman.
Terdapat pula hadis yang mengingatkan tentang kewajiban menyantun anak yatim, adab masuk masjid, hingga pengingat tentang utang. Penempatan hadis mengenai larangan mubazir dan keutamaan salat sunnah di serambi belakang bertujuan agar jamaah senantiasa mendapatkan pencerahan spiritual di setiap sudut masjid.
Keistimewaan lain dari karya ini adalah pencantuman nama resmi “Masjid Jamiul Al-Ihsan” pada gapura pagar masjid. Nama ini diberikan langsung oleh sang kaligrafer sebagai bentuk penghormatan. Di dalam masjid, beliau juga mengukir 99 Asmaul Husna dan nama-nama sahabat Rasulullah SAW yang terkenal.
Keberadaan karya internasional di pusat kota Watampone ini menjadi data arkeologis penting yang membuktikan relasi intelektual Bone dengan dunia luar. Hal ini menjadikan Masjid Raya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan galeri seni Islam yang patut dilestarikan sebagai Benda Cagar Budaya.
Meskipun sebagian ornamen kini tertutup oleh dinding kedap suara akibat renovasi, nilai sejarah yang ditinggalkan maestro Mesir ini tetap menjadi harta karun. Murid-murid beliau di Bone yang masih hidup terus mewariskan teknik dan semangat penulisan seni khat tersebut kepada generasi penerus.
Menjaga keaslian karya ini adalah cara terbaik untuk menghargai warisan peninggalan La Mappanyukki. Keindahan yang diciptakan sang maestro akan tetap menjadi saksi bisu atas kemuliaan syiar agama di Bumi Arung Palakka bagi siapa saja yang datang bersujud di bawah kubahnya.



