WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID Kehebatan pelaut Bugis Kuno mengarungi lautan lintas benua, dari perairan Nusantara hingga Madagaskar dan pesisir Australia, bukanlah sekadar mitos. Di balik ketangguhan armada Pinisi dan keberanian para Passompe (pelaut), terdapat penguasaan ilmu navigasi tradisional yang sangat tinggi.

Jauh sebelum kompas modern dan sistem penentu lokasi global (GPS) ditemukan, pelaut Bugis kuno dulu mengandalkan tingkat literasi alam yang mendalam. Mereka memiliki kepekaan membaca angin, gelombang, dan benda langit yang diwariskan turun-temurun, di mana sebagian kebijaksanaan tersebut juga terekam rapi dalam naskah kuno beraksara Lontara.

Berikut adalah bagaimana cara pelaut Bugis kuno membaca arah angin dan menavigasi lautan lepas:

1. Memahami Konsep Empat Mata Angin Utama

Dalam sistem navigasi tradisional Bugis, langkah paling dasar adalah penguasaan arah mata angin yang memiliki nomenklatur spesifik dalam bahasa lokal. Pengetahuan ini adalah fondasi mutlak sebelum membentangkan layar:

  • Manorang: Arah Utara
  • Alau: Arah Timur (titik matahari terbit)
  • Maniang: Arah Selatan
  • Orai: Arah Barat (titik matahari terbenam)

Arah-arah utama ini kemudian dipecah lagi menjadi titik kompas yang lebih presisi (arah antara), seperti Usunna Manorang na Alau untuk menyebut Timur Laut. Penamaan yang presisi ini memungkinkan nakhoda menetapkan koordinat pelayaran hanya dengan merasakan hembusan angin di kulit mereka.

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png

2. Mengandalkan Siklus Angin Musim (Muson)

Pelaut Bugis sangat memahami siklus iklim maritim Nusantara. Pelayaran dagang mereka sangat bergantung pada dua pola pergerakan angin utama:

  • Angin Bara’ (Musim Barat): Angin yang berhembus kuat dari arah barat ke timur. Musim ini biasanya dimanfaatkan untuk berlayar dari Sulawesi menuju wilayah perairan Maluku hingga Papua.
  • Angin Timu (Musim Timur): Angin dari arah timur yang dimanfaatkan untuk pelayaran kembali ke perairan Sulawesi, atau melanjutkan ekspedisi menuju kawasan barat Nusantara hingga Semenanjung Malaya.

Pemahaman iklim ini membuat mereka tahu persis kapan momentum yang aman untuk “turun ke laut” dan kapan harus menambatkan perahu untuk menghindari cuaca ekstrem.

3. Panduan Cahaya di Langit Malam

Ketika berlayar di malam hari dan arah hembusan angin laut mulai tidak menentu, para Passompe akan mengalihkan pandangan ke langit. Pengetahuan astronomi tradisional sangat lekat dengan kehidupan pelaut. Rasi-rasi tertentu di langit difungsikan sebagai kompas absolut. Posisi benda langit ini memandu kemudi perahu agar tidak menyimpang dari jalur tujuan, menjaga haluan tetap lurus meski berada di tengah samudera yang gelap gulita.

4. Mengamati Karakteristik Arus dan Gelombang

Pengetahuan membaca angin selalu dikombinasikan dengan keahlian membaca kondisi air laut. Pelaut Bugis memiliki istilah teknis yang sangat rinci mengenai kondisi perairan, seperti Maloppo wae untuk menyebut air yang sedang pasang naik.

Mereka juga mampu membaca pantulan gelombang yang menabrak lambung perahu. Jika pola gelombang berubah menjadi tidak beraturan, itu menandakan adanya daratan, karang, atau perairan dangkal di sekitar mereka. Indikator alam lainnya seperti perubahan suhu air, warna laut, hingga kemunculan burung laut menjadi petunjuk krusial yang mengonfirmasi posisi perahu.