WhatsApp Icon Gabung WhatsApp Channel Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID – Kabupaten Bone tidak hanya dikenal dengan kejayaan Kerajaan Bone, tetapi juga menyimpan kepingan sejarah penting dari kerajaan-kerajaan bawahan atau persekutuan lainnya. Salah satu situs yang paling ikonik adalah Makam Raja-raja Lamuru yang terletak di Kelurahan Lalebata, Kecamatan Lamuru. Situs pemakaman ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah kesatuan hukum dan pemukiman tua yang diperkirakan telah berdiri kokoh sejak abad ke-XIV di Bumi Arung Palakka.

Kompleks Makam Raja-raja Lamuru ini berdiri di atas lahan yang tertata rapi dengan total 117 makam yang memiliki arsitektur unik dan beragam. Secara rinci, terdapat 10 makam berukuran besar yang bentuknya menyerupai candi, 28 makam sedang dengan pahatan seni batu yang mendetail, serta 78 makam kecil. Selain makam para raja atau Datu, di lokasi ini juga terdapat makam Sullewatang Lamuru, sosok pimpinan pada masa transisi dari bentuk distrik kerajaan menjadi kecamatan.

Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik utama dari Makam Raja-raja Lamuru adalah material bangunannya. Seluruh makam di kompleks ini terbuat dari batu sedimen yang konon didatangkan langsung dari Kepulauan Selayar. Menariknya, batu jenis ini dikabarkan sudah tidak dapat ditemukan lagi di daerah asalnya, yang menjadikan keberadaan makam-makam ini sangat langka dan memiliki nilai arkeologis yang sangat tinggi bagi penelitian sejarah Sulawesi Selatan.

Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai situs prasejarah dan sejarah Lamuru:

  • 1. Usia Pemukiman yang Sangat Tua: Meski data autentik pembentukan hukumnya masih diteliti, Lamuru sebagai pemukiman diperkirakan sudah ada sejak 2.000 tahun sebelum Masehi, terbukti dengan temuan artefak Maros Point.
  • 2. Era Tomanurung Lamuru: Mengacu pada pertumbuhan kerajaan di Sulsel, Kerajaan Lamuru diyakini berdiri sekitar abad ke-XIV yang diawali dengan munculnya sosok Tomanurung.
  • 3. Peresmian dan Pemugaran: Situs ini mulai mendapatkan perhatian serius pemerintah dan diresmikan pada 23 April 1977 setelah melalui proses pemugaran di tahun yang sama.
  • 4. Destinasi Wisata Religi: Meski kental dengan suasana mistis yang kerap membuat bulu kuduk merinding, makam ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga mancanegara, terutama saat bulan suci Ramadan.
  • 5. Penjaga Kelestarian Artefak: Di dalam kompleks ini masih terjaga fleks-fleks dan alat batu prasejarah yang menjadi bukti bahwa Lamuru adalah pusat peradaban kuno yang berkelanjutan.

Eksistensi Makam Raja-raja Lamuru juga tidak lepas dari nama-nama besar penguasa yang pernah memimpin wilayah ini. Berdasarkan literatur Dinas Kebudayaan Bone, terdapat deretan Datu Lamuru yang membawa kemasyhuran bagi wilayahnya. Mulai dari pimpinan pertama yang legendaris, Petta Pitue Matanna Manurunge ri Soloreng, hingga tokoh-tokoh besar lainnya seperti Colli PujiE yang dikenal luas dalam dunia sastra dan sejarah Sulawesi Selatan.

Keberadaan makam ini menjadi bukti fisik betapa majunya peradaban Lamuru di masa lalu, baik dari sisi politik maupun seni pahat batu. Para petugas makam yang berjaga sering kali merasakan atmosfer sakral yang sangat kuat, terutama saat malam hari. Hal ini justru menambah daya tarik bagi para pencinta wisata sejarah dan religi yang ingin merasakan langsung kedekatan spiritual dengan para leluhur di tanah Lamuru.

Bagi Anda yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai silsilah penguasa Lamuru, berikut adalah daftar para Raja atau Datu Lamuru yang tercatat dalam sejarah:

  1. Petta Pitue Matanna Manurunge ri Soloreng
  2. Datue ri Laue
  3. We Tenri Billi
  4. We Baji Daeng Simpare
  5. La Cella MatinroE ri Tengngana Soppeng
  6. Janggo Pute
  7. La Mappasunra
  8. La Mappaware
  9. Laruppang Mogga Matinroe ri Muttiara
  10. Colli PujiE
  11. Jaya Langkana
  12. We Pura Daeng Marannu
  13. We Tenri Baji

Menjaga kelestarian Makam Raja-raja Lamuru adalah tanggung jawab bersama agar identitas sejarah kita tidak hilang tertimbun zaman. Situs ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan lembaran sejarah yang bercerita tentang kedaulatan, martabat, dan kearifan lokal masyarakat Bone. Melalui kunjungan wisata yang teratur dan riset yang berkelanjutan, diharapkan nilai-nilai luhur dari peradaban Lamuru dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Bagi pengunjung yang ingin bertandang, disarankan untuk tetap menjaga kesopanan dan mengikuti aturan adat setempat mengingat area ini adalah daerah yang sangat dikeramatkan. Dengan menghormati etika bertamu di situs sejarah, kita turut menjaga marwah para pendahulu yang telah meletakkan dasar peradaban di Kecamatan Lamuru hingga tetap eksis sampai hari ini.