WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID Mengatasi gangguan pernapasan melalui Ramuan Obat Tradisional Bugis untuk Pilek dan Hidung Berlendir merupakan bagian penting dari warisan literasi kesehatan yang tercatat dalam manuskrip Lontara Pabbura. Dalam naskah kuno tersebut, masyarakat Bugis telah mengklasifikasikan gangguan hidung ke dalam beberapa kategori, seperti hidung berlendir (beringus) hingga hidung tersumbat atau pilek yang disebabkan oleh faktor cuaca atau angin. Pengobatan yang ditawarkan pun sangat variatif, mulai dari obat minum, obat tetes hidung, hingga ramuan padat yang dihirup aromanya untuk melegakan pernapasan.

Pengetahuan yang terekam dalam Lontara Pabbura ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rempah-rempah hangat seperti jahe, kencur, dan merica sudah menjadi standar pengobatan utama di Sulawesi Selatan sejak masa lampau. Berikut adalah rincian pengobatan hidung sebagaimana diadaptasi dari catatan naskah tersebut:

Metode Mengatasi Hidung Berlendir (Beringus)

Untuk kondisi hidung yang terus mengeluarkan lendir, Ramuan Obat Tradisional Bugis untuk Pilek menawarkan beberapa opsi penggunaan bahan alami yang bersifat mengikat dan menghangatkan:

  1. Campuran Gambir dan Daun Sirih: Gambir (Uncaria gambir) dan daun sirih (Piperis betle Folium) dicampur dengan air dan sedikit asam jawa. Ramuan ini unik karena selain bisa diminum, cairannya juga dapat dioleskan langsung pada hidung yang berlendir untuk membantu mengeringkan lendir secara perlahan.
  2. Kunyit dan Mentega: Kunyit yang dicampur dengan mentega digunakan sebagai sediaan padat yang disapukan pada hidung. Sifat antiseptik kunyit dipercaya mampu menekan produksi lendir berlebih.
  3. Ramuan Jadam, Jahe, dan Merica: Kombinasi jahe (Zingiber officinalis) dan merica yang ditumbuk halus kemudian dicampur air untuk diteteskan pada hidung. Efek hangat dari jahe sangat efektif untuk melancarkan sumbatan lendir yang membandel.

Pengobatan Hidung Tersumbat dan Pilek Karena Angin

Kondisi hidung tersumbat atau pilek yang disebabkan oleh pengaruh angin (cuaca dingin) memiliki penanganan yang lebih intensif dalam naskah Lontara Pabbura. Salah satu teknik unik yang disebutkan adalah inhalasi atau menghirup aroma rempah:

  • Inhalasi Rempah (Kayu Manis, Lengkuas, Jahe): Ketiga bahan ini ditumbuk bersama-sama hingga halus. Menariknya, naskah menyebutkan bahwa aroma dari campuran padat ini dapat dihirup atau disapukan pada hidung orang yang pilek untuk membuka saluran napas yang tersumbat.
  • Jahe dan Minyak Wijen: Jahe yang dihaluskan dicampur dengan minyak wijen (Oleum Sesami) kemudian dihangatkan. Setelah hangat, cairan tersebut disapukan pada hidung. Teknik penghangatan ini sangat krusial dalam konsep pengobatan Bugis untuk melawan unsur “dingin” dari penyakit pilek.
  • Bawang Putih dan Madu: Untuk penyembuhan dari dalam, bawang putih yang ditumbuk halus dicampur dengan madu murni dikonsumsi setiap pagi hingga sembuh. Kombinasi ini dikenal sebagai antibiotik alami yang sangat kuat.

Pemanfaatan Tanaman Sekitar dalam Literasi Pabbura

Selain rempah utama, Ramuan Tradisional Bugis untuk Pilek juga memanfaatkan tanaman lain seperti daun pepaya yang diremas dengan garam untuk disapukan pada hidung, hingga buah manis (anis) yang dikunyah dan ditelan airnya. Penggunaan bahan-bahan ini menunjukkan betapa masyarakat Bugis masa lalu sangat bergantung pada apotek hidup yang tersedia di halaman rumah.

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png

Menelaah kembali isi Lontara Pabbura menyadarkan kita bahwa literasi kesehatan masyarakat Sulawesi Selatan sangatlah maju pada zamannya. Metode pengobatan yang mencakup aspek luar (oles/tetes) dan dalam (minum) menunjukkan pendekatan medis yang komprehensif.

Pengetahuan otentik ini patut terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya. Dengan menjaga warisan Lontara, kita tidak hanya menjaga resep pengobatan, tetapi juga menjaga cara pandang luhur nenek moyang dalam menghargai alam sebagai penyembuh alami bagi manusia.