WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID – Menangkap ikan menggunakan racun kimiawi (seperti potas) atau bahan peledak adalah tindakan ilegal yang sangat merusak ekosistem perairan. Selain membunuh terumbu karang, metode destruktif tersebut juga mematikan bibit-bibit ikan kecil yang memutus rantai kehidupan laut.

Sebagai alternatif yang jauh lebih ramah lingkungan, nenek moyang kita di Sulawesi Selatan mewariskan kearifan lokal menggunakan bahan alami dari hutan. Semangat memanfaatkan kekayaan botani ini sangat sejalan dengan tradisi literasi masa lampau, seperti naskah Lontara Pabbura, yang mendokumentasikan khasiat ragam akar-akaran baik untuk pengobatan maupun untuk bertahan hidup.

Salah satu tumbuhan primadona yang diandalkan pelaut dan masyarakat pesisir sejak dahulu adalah Akar Tuba (Derris elliptica). Di kawasan selatan Sulawesi Selatan, tumbuhan merambat ini lebih akrab disapa dengan sebutan Tuha’.

Mengapa Akar Tuba Diklaim Ramah Lingkungan?

Akar tuba mengandung senyawa aktif alami bernama rotenone. Senyawa ini bekerja secara spesifik pada insang dengan cara membius atau membuat ikan kesulitan bernapas (pingsan sementara), bukan membunuhnya secara massal seperti halnya racun kimia.

Keunggulan utama dari ekstrak akar tuba adalah sifatnya yang sangat mudah terurai oleh alam (biodegradable). Residu zat ini akan hancur dengan sendirinya dalam waktu 2 hingga 3 hari jika terpapar sinar matahari dan bercampur air. Dengan demikian, zat ini tidak akan mengendap, tidak meninggalkan racun permanen di perairan, dan tidak merusak habitat biota laut maupun terumbu karang di sekitarnya.

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png

Cara Membuat Racun Ikan Alami Menggunakan Racikan Ekstrak Akar Tuba

Proses peracikan bius alami ini sangat praktis dan bisa dilakukan dengan peralatan sederhana:

  1. Pemilihan Bahan: Cari tanaman tuba yang sudah cukup tua. Ambil bagian akarnya, karena di bagian inilah konsentrasi senyawa rotenone berada pada tingkat paling tinggi.
  2. Proses Penumbukan: Potong akar tuba menjadi beberapa bagian kecil, kemudian jemur hingga agak kering untuk mengurangi kadar airnya. Setelah itu, tumbuk akar tuba tersebut hingga memar, pipih, dan hancur.
  3. Pencampuran Air: Masukkan hasil tumbukan akar ke dalam wadah berisi air bersih. Kocok atau remas-remas akar tersebut di dalam air hingga air berubah warna menjadi keputihan menyerupai susu. Perubahan warna ini menandakan getah racunnya sudah terekstrak keluar.
  4. Pengaplikasian: Taburkan atau siramkan air campuran tersebut ke area perairan dangkal, sela-sela karang pesisir, atau lubuk muara yang diyakini menjadi sarang persembunyian ikan.
  5. Waktu Panen: Tunggu beberapa belas menit. Ikan-ikan yang terpapar akan mulai kehilangan keseimbangan, mabuk, dan mengapung ke permukaan karena efek anestesi sementara. Anda bisa langsung mengumpulkan ikan tersebut menggunakan jaring atau tangguk.

Peringatan Penggunaan: Meskipun terbuat dari bahan nabati yang mudah terurai, penggunaan akar tuba tetap harus dilakukan dengan bijaksana, selektif, dan murni untuk metode penangkapan ikan tradisional skala kecil. Menggunakannya secara berlebihan dan masif tetap berpotensi mengganggu ritme keseimbangan ekosistem perairan lokal.