BONE, BONETERKINI.ID – Masyarakat Kabupaten Bone memiliki beragam cara unik untuk merayakan rasa syukur setelah melewati masa panen raya yang melimpah. Salah satu atraksi budaya yang paling menyedot perhatian warga adalah Tradisi Mappere Bugis, sebuah ritual menggunakan ayunan raksasa yang menuntut keberanian luar biasa dari para pelakunya.
Kehadiran Tradisi Mappere Bugis di tengah perkampungan selalu menjadi magnet yang mengumpulkan ratusan penonton dari berbagai pelosok desa. Mereka datang untuk menyaksikan secara langsung bagaimana para pemuda setempat menantang gravitasi dengan berayun setinggi pohon kelapa tanpa rasa takut sedikit pun.
Bagi generasi muda di Sulawesi Selatan, menjaga eksistensi Tradisi Mappere Bugis bukan sekadar masalah hobi atau permainan belaka. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang mengandung nilai-nilai ketangkasan, sportivitas, serta kekompakan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus tetap terjaga hingga masa depan.
Berikut adalah 5 fakta menarik mengenai tradisi ekstrem kebanggaan masyarakat Bugis ini:
- 1. Simbol Rasa Syukur Panen Raya: Mappere bukan sekadar tontonan, melainkan wujud terima kasih kepada Sang Pencipta atas keberhasilan hasil tani. Tradisi ini menyatukan emosi kegembiraan petani dalam sebuah pesta rakyat yang sangat meriah.
- 2. Material Ayunan dari Alam: Struktur utama ayunan raksasa ini menggunakan batang kayu pilihan yang ditanam sangat dalam ke tanah. Keamanan menjadi prioritas utama meski atraksi ini terlihat sangat berbahaya bagi orang awam.
- 3. Penggunaan Tali Kulit Kerbau: Berbeda dengan ayunan biasa, Mappere menggunakan jalinan kulit kerbau yang dikeringkan sebagai tali penopang. Kekuatan kulit kerbau ini dipercaya mampu menahan beban pemain saat melesat tinggi ke udara.
- 4. Uji Nyali dan Kedewasaan: Para pemain atau Passere harus memiliki mental baja. Mampu berdiri tegak di atas ayunan yang bergerak liar di ketinggian belasan meter dianggap sebagai simbol kedewasaan dan keberanian pria Bugis.
- 5. Penjaga Silaturahmi Warga: Melalui kegiatan ini, sekat-sekat sosial antarwarga desa seolah hilang. Semua orang berkumpul, bergotong-royong menyiapkan alat, dan bersorak bersama mendukung para pemain yang sedang beraksi.
Proses pembuatan ayunan ini melibatkan kerja sama tim yang sangat solid sejak tahap penebangan kayu hingga pemasangan tali. Setiap orang memiliki peran masing-masing, menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial yang terjalin dalam komunitas masyarakat di pedesaan Bone.
Saat ayunan mulai ditarik oleh beberapa orang di bawah, kecepatan dan ketinggiannya akan bertambah secara perlahan namun pasti. Penonton sering kali berteriak histeris saat melihat Passere mencapai titik tertinggi yang sejajar dengan puncak pepohonan di sekitar lokasi acara.
Keindahan dari tradisi ini juga terletak pada keseimbangan yang harus dijaga oleh sang pemain selama berada di udara. Ia tidak boleh goyah sedikit pun karena stabilitas pijakan adalah kunci utama untuk keselamatan dan estetika gerakan ayunan yang memukau mata.
Secara historis, Mappere juga sering kali dikaitkan dengan legenda Sangiang Serri atau dewi padi dalam mitologi lokal. Ritual ini dianggap sebagai cara untuk menghibur alam agar tetap memberikan kesuburan bagi tanah Bone pada musim tanam berikutnya yang akan segera datang.
Kini, regenerasi menjadi tantangan tersendiri bagi kelestarian tradisi yang sarat akan makna ini. Kita memerlukan peran aktif dari pemuda lokal untuk mau belajar teknik bermain ayunan raksasa ini agar identitas budaya Bugis tidak lekang oleh panasnya arus modernitas.
Strategi Melestarikan Tradisi Mappere Bugis di Masa Depan
Pemerintah Kabupaten Bone perlu terus mengagendakan atraksi ini dalam kalender pariwisata tahunan secara rutin. Dengan adanya dukungan fasilitas dan promosi yang baik, Mappere bisa menjadi daya tarik wisata budaya kelas dunia yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga lokal.
Kita harus bangga memiliki warisan budaya yang begitu ikonik dan menantang seperti ini. Melalui kebersamaan dan kecintaan pada adat istiadat, Tradisi Mappere Bugis akan terus berayun tinggi, membawa nama baik daerah ke kancah nasional maupun internasional dengan segala keunikan dan nilai filosofisnya.

