BONE, BONETERKINI.ID – Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah merupakan impian terbesar sekaligus pencapaian spiritual tertinggi bagi mayoritas masyarakat Muslim di Kabupaten Bone. Tingginya tingkat religiusitas warga di Bumi Arung Palakka ini terbukti dari antusiasme pendaftaran haji yang terus mengalir setiap tahunnya, meski harus dihadapkan pada kenyataan masa tunggu yang sangat panjang.
Berdasarkan data terbaru dari Sistem Informasi Haji (Siskohat) Kementerian Agama Republik Indonesia per awal Mei 2026, antrean atau masa tunggu keberangkatan haji untuk wilayah Kabupaten Bone kini telah menyentuh angka 30 tahun. Lamanya masa tunggu ini berbanding lurus dengan jumlah pendaftar yang terus membengkak.
Tercatat, hingga saat ini terdapat 30.233 jemaah asal Kabupaten Bone yang masuk dalam waiting list (daftar tunggu) resmi kementerian. Angka yang fantastis ini menyimpan sejumlah fakta dan fenomena demografi yang sangat menarik untuk dibedah, khususnya terkait siapa saja profil masyarakat Bone yang paling banyak mendaftar haji.
Jika membedah profil pendaftar berdasarkan jenis kelamin, antrean haji di Kabupaten Bone ternyata didominasi secara mutlak oleh kaum perempuan. Tercatat sebanyak 20.402 pendaftar adalah perempuan, sementara pendaftar laki-laki berada di angka 9.831 orang.
Dominasi perempuan ini semakin terlihat jelas ketika melihat rincian berdasarkan latar belakang pekerjaan. Secara mengejutkan, pendaftar haji asal Bone tidak didominasi oleh kalangan pengusaha atau pejabat, melainkan oleh kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) yang jumlahnya mencapai 13.434 jemaah.
Setelah kelompok ibu rumah tangga, pendaftar haji terbanyak kedua di Kabupaten Bone berasal dari sektor agraris dan maritim, yakni Tani/Nelayan dengan jumlah 4.251 jemaah. Data ini kembali menegaskan identitas Bone sebagai daerah lumbung pangan dan wilayah pesisir yang tangguh. Hasil panen raya dan tangkapan laut yang melimpah terbukti mampu dikonversi menjadi tabungan spiritual oleh masyarakat pedesaan.
Di urutan selanjutnya, kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) menempati posisi ketiga dengan 4.004 pendaftar, disusul oleh pegawai Swasta sebanyak 2.818 jemaah, serta kelompok profesi lainnya seperti pedagang, pensiunan, dan pelajar/mahasiswa.
Masa tunggu yang mencapai tiga dekade (30 tahun) tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pendaftar yang usianya sudah tidak lagi muda. Dari total 30 ribu lebih daftar tunggu tersebut, Siskohat mencatat terdapat 2.964 Jemaah Lansia (Lanjut Usia). Hal ini tentu membutuhkan perhatian dan kebijakan khusus dari pemerintah, seperti optimalisasi kuota prioritas lansia, agar mereka tetap memiliki kesempatan menunaikan rukun Islam kelima tersebut di sisa usianya.
Sementara itu, dari segi latar belakang pendidikan, mayoritas pendaftar haji di Bone adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) dengan jumlah 13.282 orang. Disusul tamatan SLTA (5.766), Strata 1/S1 (5.137), dan SLTP (4.335). Fakta ini menunjukkan bahwa niat suci berhaji melintasi segala batas tingkat pendidikan formal; dari masyarakat akar rumput hingga kaum akademisi memiliki semangat spiritual yang sama kuatnya.
Untuk tren pendaftaran di bulan Mei 2026 ini, sistem mencatat adanya 53 pendaftar baru. Meskipun angka ini terlihat menurun drastis sebesar 91,37% dibandingkan bulan sebelumnya (April 2026) yang mencatat 614 pendaftar, hal tersebut wajar terjadi mengingat data ini diambil pada minggu pertama bulan Mei (tanggal 6), sehingga akumulasi pendaftar bulan ini masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Panjangnya daftar tunggu ini diharapkan tidak menyurutkan niat masyarakat Kabupaten Bone untuk terus mendaftar. Di saat yang sama, masyarakat juga menaruh harapan besar agar pemerintah pusat terus melakukan diplomasi tingkat tinggi dengan Pemerintah Arab Saudi untuk menambah kuota haji nasional, sehingga antrean 30 tahun di Bumi Arung Palakka ini bisa berangsur-angsur dipangkas.



