BONE, BONETERKINI.ID – Nama Prof. Dr. H. Lukman Arake, Lc., M.A., Rektor IAIN Bone kini menjadi perbincangan hangat sebagai simbol keberhasilan putra daerah yang menembus batas dunia. Terpilihnya beliau sebagai pemimpin kampus hijau periode 2026-2030 bukan sekadar jabatan birokrasi, melainkan muara dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan tetesan keringat, air mata, dan keteguhan iman dari sebuah desa terpencil di Sulawesi.
Lahir pada 3 September 1973 di Desa Rea Barat, Kabupaten Polmas, Sulawesi Barat, Lukman Arake tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk kemajuan kota. Berdarah Bugis-Mandar, ia menghabiskan enam tahun masa kecilnya di sekolah dasar desa tersebut dengan sebuah mimpi yang bagi banyak orang saat itu mungkin terdengar mustahil, yakni menjadi seorang Doktor.
Tempaan Pesantren dan Keberanian Menantang Dunia
Latar belakang pendidikan menjadi fondasi utama kesuksesan Prof Lukman. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1985, ia meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren DDI Mangkoso. Di sana, selama enam tahun, ia digembleng dalam disiplin ilmu agama yang ketat hingga menamatkan jenjang Tsanawiyah dan Aliyah.
Berbekal ilmu dari pesantren, ia memberanikan diri “menantang” dunia dengan terbang ke Mesir pada tahun 1993 untuk kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo. Perjalanan di negeri para nabi ini tidaklah mudah; ia harus berhadapan dengan keterbatasan finansial dan kerasnya hidup di perantauan. Namun, bagi Prof Lukman, setiap hambatan adalah jalan menuju pendewasaan diri.
Rekor Dunia di Jantung Keilmuan Islam
Puncak prestasi akademisnya terukir indah di Gedung Fakultas Syariah Wal Qanun, Universitas Al Azhar, pada Kamis, 21 Agustus 2008. Hari itu menjadi saksi lahirnya Doktor baru Indonesia yang mencatatkan rekor luar biasa. Prof Lukman menyelesaikan program Doktoralnya dengan nilai Mumtaz ma’a Syaraf Al-Ula (Istimewa dengan Predikat Kehormatan Pertama).
Disertasinya yang berjudul Fiqhu As Siyasi Al Islamy Lilaqalliyat (Fikih Politik Islam bagi Minoritas) mengantarkannya menjadi orang Indonesia kedua yang meraih gelar Doktor di bidang tahassus (spesialisasi) politik di Al Azhar. Bahkan, ia tercatat sebagai Wafidin (mahasiswa asing) pertama di dunia yang berhasil meraih gelar Doktor di bidang tersebut. Keberhasilan ini mengundang decak kagum banyak pihak, termasuk Duta Besar Indonesia untuk Mesir saat itu, Drs. Abdurrahman Fachir, yang hadir langsung memberikan selamat.
Keberhasilan Prof Lukman bukan datang dari langit. Selama di Kairo, ia dikenal sebagai mahasiswa yang sangat aktif dan disiplin. Beliau pernah bercerita bahwa sebulan sebelum ujian, tidak boleh ada materi (mukarrar) yang tersisa untuk dibaca. Kedisiplinannya sangat legendaris; ia bahkan pernah membungkus televisinya agar tidak terganggu oleh tayangan Piala Dunia demi fokus belajar.
Perjuangan fisik pun ia lakoni, mulai dari berdesak-desakan di bus “80 coret” yang sesak hingga harus “bertapa” mengasingkan diri ke daerah Kattamea saat menghadapi ujian tamhidi terakhir yang hampir membuatnya putus asa. Bersama istri tercinta dan buah hatinya, Faris Lukman Arake, ia melewati musim dingin Mutsallas dengan kesederhanaan namun penuh kekayaan intelektual.
Kini, dengan segala pengalaman internasional dan kedalaman ilmu Fikih Politiknya, Prof Lukman Arake siap membawa IAIN Bone menuju era transformasi. Kepemimpinannya diharapkan menjadi “wacana baru” yang mampu menuntun sivitas akademika dan masyarakat Bone dalam menyikapi berbagai tantangan zaman dengan integritas dan ketawaduan seorang ulama-intelektual.



