WhatsApp Icon Gabung WhatsApp Channel Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID – Perayaan Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha di Tanah Bugis, khususnya di Kabupaten Bone, selalu membawa nuansa suka cita yang khas. Selain momen bermaaf-maafan dan kumpul bersama sanak saudara, hari raya terasa kurang lengkap tanpa kehadiran hidangan istimewa di meja makan keluarga.

Dari sekian banyak ragam kuliner tradisional khas Sulawesi Selatan, ada satu lauk primadona yang seakan menjadi “syarat sah” dalam merayakan hari kemenangan bagi masyarakat Bugis, yakni Nasu Likku Ayam Kampung. Aroma harum semerbak dari perpaduan rempah dan santan yang menguar dari dapur-dapur warga menjelang lebaran biasanya berasal dari masakan tradisional yang satu ini.

Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Nasu Likku

Secara etimologi bahasa lokal, kata Nasu memiliki arti masak atau memasak, sementara Likku berarti lengkuas. Sesuai dengan penamaannya, hidangan ini pada dasarnya adalah olahan daging ayam yang dimasak secara perlahan menggunakan bumbu rempah nusantara dengan menonjolkan parutan lengkuas dalam jumlah yang sangat melimpah.

Pemilihan bahan baku menjadi kunci utama kelezatan hidangan ini. Masyarakat Bugis pada umumnya mewajibkan penggunaan ayam kampung (manu’) dibandingkan ayam potong atau broiler. Ayam kampung dipilih karena memiliki tekstur daging yang lebih padat, kenyal, tidak mudah hancur saat dimasak lama, serta mengeluarkan kaldu alami yang membuat kuah masakan menjadi jauh lebih gurih dan medok.

Keistimewaan Nasu Likku tidak hanya terletak pada cita rasanya yang menggugah selera, tetapi juga pada proses pembuatannya yang panjang dan sarat akan makna filosofis.

Memasak Nasu Likku menuntut tingkat kesabaran yang luar biasa. Tahapannya dimulai dari memarut lengkuas segar dalam jumlah yang banyak secara manual. Selanjutnya, ayam kampung dimasak perlahan (slow cooking) di dalam kuali besar bersama santan kelapa kental, parutan lengkuas, dan aneka rempah seperti serai, kunyit, dan bawang.

Proses memasak ini memakan waktu berjam-jam dengan api sedang. Sang juru masak harus terus mengaduknya secara perlahan agar santan tidak pecah dan bumbu meresap sempurna hingga ke rongga tulang ayam. Kuah santan kemudian dibiarkan menyusut hingga mengering, mengubah parutan lengkuas menjadi serundeng yang gurih dan sedikit bertekstur kasar. Kesabaran dalam mengaduk dan menanti masakan ini matang sempurna menjadi cerminan karakter ketekunan masyarakat Bugis.

Rahasia Daya Tahan dan Cita Rasa yang Semakin Menguat

Satu hal unik dari Nasu Likku adalah daya tahannya yang luar biasa terhadap suhu ruang. Penggunaan lengkuas yang berlimpah ternyata tidak hanya berfungsi sebagai pemberi aroma dan rasa, tetapi juga bertindak sebagai pengawet alami untuk daging ayam.

Semakin sering masakan ini dipanaskan atau dihangatkan, cita rasanya justru akan semakin lezat. Serundeng lengkuasnya akan semakin garing, minyak dari santan kelapa akan semakin keluar, dan bumbunya semakin menyatu kuat dengan daging ayam. Hal inilah yang menjadikannya sebagai lauk yang sangat praktis dan awet disajikan selama berhari-hari saat momen open house Lebaran, di mana tamu silih berganti berdatangan.

Burasa Sebagai Pasangan Abadi di Meja Makan

Menikmati seporsi Nasu Likku tentu tidak akan paripurna jika tidak disandingkan dengan pasangan abadinya, yakni Burasa atau Buras. Burasa adalah penganan sejenis lontong khas Bugis-Makassar yang terbuat dari beras yang dimasak dengan santan kental, lalu dibungkus menggunakan daun pisang muda dengan bentuk pipih memanjang, diikat kuat, dan direbus selama berjam-jam.

Tekstur Burasa yang lembut dan rasanya yang gurih bersantan menjadi penetralisir yang sangat pas ketika disantap bersamaan dengan bumbu rempah Nasu Likku yang tajam dan pekat. Kombinasi kedua hidangan ini selalu berhasil membangkitkan memori kampung halaman, terutama bagi para Passompe (perantau) yang baru saja tiba di tanah kelahiran.

Di tengah gempuran tren makanan modern dan fast food, mempertahankan eksistensi resep tradisional seperti Nasu Likku adalah sebuah upaya penting dalam menjaga literasi budaya dan identitas lokal. Resep masakan ini biasanya tidak tertulis secara formal, melainkan dituturkan dan diwariskan secara langsung dari seorang indo’ (ibu) kepada anak perempuannya di dapur.

Melalui proses pewarisan inilah, cita rasa autentik kuliner Bugis tidak akan lekang oleh zaman. Jadi, sudahkah keluarga Anda menyiapkan bahan-bahan untuk memasak Nasu Likku sebagai hidangan Lebaran tahun ini?