BONE, BONETERKINI.ID – Mengatasi peningkatan suhu tubuh melalui Ramuan Obat Tradisional Bugis untuk Demam merupakan bagian dari kearifan medis yang terdokumentasi dalam manuskrip kuno Lontara Pabbura. Dalam naskah tersebut, penyakit panas atau demam dipandang sebagai kondisi tubuh yang membutuhkan penanganan segera melalui dua jalur, yakni pendinginan dari luar (kompres) dan pembersihan dari dalam (obat minum). Masyarakat Bugis masa lampau telah memanfaatkan tanaman di sekitar pekarangan seperti pisang, kemiri, hingga air cucian beras sebagai solusi alami yang efektif.
Pengetahuan yang diwariskan dalam Lontara Pabbura ini menekankan pada penggunaan bahan yang bersifat mendinginkan (refrigerant) untuk menstabilkan kembali suhu badan. Berikut adalah rincian pengobatannya sebagaimana diadaptasi dari catatan naskah tersebut:
Metode Pendinginan Luar dan Kompres Kepala
Dalam Ramuan Obat Tradisional Bugis untuk Demam, penanganan pertama yang sering dilakukan adalah menurunkan suhu di area kepala untuk mencegah kondisi yang lebih parah:
- Parutan Pisang: Buah pisang (Musa paradisiaca) yang masih muda diparut halus, kemudian ditempelkan secara merata pada bagian kepala. Sifat dingin alami dari buah pisang dipercaya mampu menyerap panas tubuh secara cepat.
- Tawak Giling: Menggunakan bahan tawak yang digiling hingga halus, lalu ditempelkan pada kepala sebagai kompres tradisional.
- Kotoran Buah Maja: Untuk kondisi “tidak enak badan” yang menyertai demam, bagian dari buah maja (Aegle marmelos) ditempelkan pada tubuh penderita untuk memberikan efek relaksasi dan kesegaran.
Sediaan Cair untuk Menurunkan Panas dari Dalam
Selain kompres, Lontara Pabbura juga merinci berbagai sediaan cair yang diminum untuk membersihkan sistem internal penderita demam:
- Air Cucian Beras dan Kemiri: Menggunakan air cucian beras pertama yang dicampur dengan kemiri (Aleurites moluccanus). Cairan ini diminum untuk membantu menurunkan suhu badan dari dalam.
- Ramuan Rumput Babi: Air dari tanaman rumput babi dicampur dengan gula pasir, diminum secara rutin terutama pada waktu pagi hari oleh orang yang menderita demam.
- Minyak Labu dan Minyak Wijen: Konsumsi minyak labu atau campuran minyak wijen dengan minyak pacar yang telah dimasak hingga airnya menyusut. Ramuan berbasis minyak ini digunakan untuk memulihkan stamina penderita.
- Pucuk Jambu Biji: Pucuk jambu (Psidium guajava) digiling halus, lalu disiram air panas untuk kemudian diminumkan kepada penderita demam.
Solusi Alergi dan Rasa Tidak Nyaman di Tubuh
Naskah ini juga memberikan solusi bagi penderita demam yang disertai gejala penyerta seperti rasa tidak nyaman di sekujur tubuh. Pemanfaatan campuran asam jawa, gula pasir, dan daun jalawe (Elaeocarpus) yang dimakan saat pagi atau sebelum tidur tercatat sebagai cara untuk menenangkan metabolisme tubuh. Selain itu, menyapukan sagu yang telah dibasahi air ke seluruh badan juga menjadi alternatif untuk memberikan sensasi sejuk bagi mereka yang merasa badannya tidak enak atau gremet-gremet.
Menelaah kembali isi naskah Lontara Pabbura menyadarkan kita bahwa literasi kesehatan masyarakat Sulawesi Selatan sangatlah praktis dan berbasis pada sumber daya alam lokal. Pendekatan holistik yang menggabungkan kompres luar dan ramuan minum menunjukkan kecerdasan nenek moyang kita dalam menangani penyakit yang paling sering ditemui sehari-hari.
Pengetahuan otentik ini adalah warisan intelektual yang patut kita banggakan. Dengan mendokumentasikan kembali resep-resep dari manuskrip kuno ini, kita menjaga kearifan nenek moyang dalam mengelola kesehatan melalui potensi alam Sulawesi Selatan yang luar biasa.



