WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID Menjaga kesehatan rongga mulut melalui Ramuan Obat Tradisional Bugis untuk Sakit Gigi merupakan bagian dari kekayaan literasi kesehatan yang diwariskan secara turun-temurun dalam manuskrip Lontara Pabbura. Dalam naskah tersebut, masyarakat Bugis telah mengidentifikasi berbagai gangguan pada area mulut dengan sangat mendetail, mencakup sariawan, gusi bengkak, bau mulut, hingga masalah gigi berlubang. Pengobatan yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari teknik kumur-kumur menggunakan cairan asam, penggunaan getah tanaman, hingga pemanfaatan bubuk dari batang kayu tertentu.

Dokumentasi Lontara Pabbura ini menjadi bukti bahwa leluhur kita memiliki pemahaman praktis mengenai kesehatan gigi dan mulut jauh sebelum obat-obatan modern tersedia secara luas di Sulawesi Selatan. Berikut adalah rincian pengobatan mulut dan gigi sebagaimana diadaptasi dari catatan naskah tersebut:

Metode Mengatasi Sariawan dan Masalah Lidah

Untuk keluhan sariawan baik pada bibir maupun lidah, Ramuan Tradisional Bugis untuk Sakit Gigi menyarankan penggunaan bahan-bahan yang bersifat antiseptik dan menyejukkan:

  1. Wijen Sangrai dan Minyak Kelapa: Wijen (Sesami Fructus) digoreng tanpa minyak (disangrai) hingga matang, kemudian dicampur dengan minyak kelapa (Oleum Cocos). Cairan ini disapukan pada bagian mulut yang mengalami sariawan untuk mempercepat penyembuhan luka.
  2. Kunyit untuk Lidah Sariawan: Kunyit (Curcumae Domestica) ditumbuk sampai halus kemudian digosokkan langsung pada lidah yang sakit atau luka. Kunyit dikenal luas memiliki senyawa kurkumin yang efektif meredakan peradangan.
  3. Kumur Madu dan Asam Cuka: Untuk lidah yang bengkak, campuran madu (Avis Mellifera) dan asam cuka digunakan sebagai cairan kumur untuk membantu mengecilkan pembengkakan.

Pengobatan Sakit Gigi Berlubang dan Memutihkan Gigi

Salah satu bagian yang paling dicari dalam Ramuan Obat Tradisional Bugis untuk Sakit Gigi adalah penanganan gigi berlubang serta estetika gigi agar terlihat lebih putih dan bersih:

  • Gigi Berlubang: Menggunakan bagian batang Kayu Jawa (Euphorbiae Cortex). Batang kayu ini dikerik hingga menghasilkan bubuk halus, kemudian bubuk tersebut dibubuhkan atau dimasukkan ke dalam lubang gigi yang sakit.
  • Memutihkan Gigi (Gigi Kotor): Leluhur Bugis memiliki cara unik menggunakan lidi dari daun kelapa kering. Lidi tersebut dibakar sampai hangus, kemudian dihaluskan hingga menjadi tepung. Bubuk hitam ini kemudian digosokkan pada gigi yang kotor atau buram cahayanya agar kembali bersih dan putih mengkilap.
  • Sakit Gusi: Getah dari pohon jarak pagar (Jatropha curcas) dioleskan langsung pada bagian gusi yang terasa sakit untuk meredakan nyeri.

Solusi untuk Mulut Bengkak dan Bau Mulut

Lontara Pabbura juga memberikan solusi bagi kondisi mulut yang bengkak serta aroma mulut yang kurang sedap (busuk). Teknik utama yang digunakan adalah kumur-kumur (dikumur-kumurkan) menggunakan cairan yang memiliki tingkat keasaman tertentu:

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png
  • Kumur Mira dan Jadam: Campuran Mira (Myrrha) atau Jadam (Aloe) dengan asam cuka digunakan untuk berkumur pada kondisi mulut bengkak, kemudian cairan tersebut dimuntahkan kembali.
  • Mengatasi Bau Mulut: Asam cuka yang dicampur dengan madu dan Mira dipercaya sangat ampuh menghilangkan aroma tidak sedap di dalam mulut jika digunakan sebagai cairan kumur secara rutin.
  • Rumput Babi untuk Luka Mulut: Tanaman rumput babi (Portulacae Herba) dikunyah sampai lumat di dalam mulut untuk membersihkan luka, kemudian ampasnya dimuntahkan kembali.

Menelaah warisan Pabbura ini menyadarkan kita bahwa literasi kesehatan masyarakat Bugis mencakup aspek yang sangat luas, dari fungsi hingga estetika. Penggunaan bahan-bahan seperti wijen, arang lidi kelapa, hingga getah jarak menunjukkan betapa dekatnya kehidupan sehari-hari leluhur kita dengan alam sebagai sumber kesembuhan.

Pengetahuan otentik ini adalah permata budaya yang patut kita banggakan. Melestarikan isi Lontara Pabbura berarti menjaga sambungan sejarah mengenai cara manusia Bugis memuliakan kesehatan tubuhnya melalui kearifan yang bersahaja namun penuh manfaat.