WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

MAKASSAR, BONETERKINI.ID – Pakaian Bling-Bling Haji masih menjadi tradisi yang melekat pada sebagian jemaah perempuan asal Sulawesi Selatan. Tradisi ini kembali terlihat saat jemaah haji mulai tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar setelah menunaikan ibadah di Tanah Suci, Selasa (2/6/2026) dini hari.

Busana berwarna cerah dengan berbagai hiasan berkilau tersebut sering menarik perhatian masyarakat. Banyak orang mengenalnya dengan sebutan pakaian Batman. Jemaah perempuan biasanya mengenakan pakaian itu saat bertemu keluarga dan kerabat yang datang menyambut kepulangan mereka.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar, Ikbal Ismail, mengatakan fenomena tersebut tidak lepas dari komposisi jemaah haji yang didominasi perempuan.

Menurut data PPIH Embarkasi Makassar, sekitar 65 persen jemaah haji yang berangkat melalui Embarkasi Makassar merupakan perempuan. Kondisi itu membuat tradisi Pakaian Bling-Bling Haji masih sering terlihat setiap musim haji.

“Berdasarkan data yang ada pada kami, sekitar 65 persen jemaah haji Embarkasi Makassar adalah perempuan. Budaya masyarakat kita, khususnya Bugis-Makassar, ketika pulang dari haji dan tiba di asrama haji, sebagian jemaah perempuan menggunakan pakaian bling-bling atau yang biasa disebut pakaian Batman,” ujar Ikbal.

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Bugis-Makassar telah mengenal tradisi tersebut sejak lama. Masyarakat mempertahankan kebiasaan itu sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Selain menunjukkan rasa syukur setelah menunaikan ibadah haji, pakaian tersebut juga menjadi simbol kebahagiaan saat kembali berkumpul dengan keluarga. Karena itu, banyak jemaah tetap mempertahankan tradisi tersebut hingga sekarang.

Pakaian Bling-Bling Haji Tetap Harus Menjaga Aurat

Ikbal menegaskan bahwa pihak penyelenggara tidak melarang jemaah menampilkan ciri khas budaya daerahnya. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sulawesi Selatan.

“Kami tidak melarang. Silakan menampilkan diri dengan ciri khasnya. Itu bagian dari budaya masyarakat Sulawesi Selatan,” katanya.

Meski demikian, ia meminta para jemaah tetap mematuhi ketentuan berpakaian sesuai syariat Islam. Ia mengingatkan bahwa penggunaan Pakaian Bling-Bling Haji tidak boleh mengabaikan kewajiban menutup aurat.

“Boleh menggunakan pakaian bling-bling atau pakaian Batman, tetapi leher dan bagian-bagian yang termasuk aurat harus tetap ditutup. Karena itu adalah aurat yang wajib dijaga,” tegasnya.

Tradisi Pakaian Bling-Bling Haji hingga kini masih menjadi pemandangan khas saat musim kepulangan jemaah haji di Sulawesi Selatan. Tradisi itu tidak hanya menunjukkan rasa syukur para jemaah, tetapi juga mencerminkan identitas budaya Bugis-Makassar yang tetap terjaga dari generasi ke generasi.