WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID – Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan tidak hanya dikenal luas sebagai pelaut ulung yang tangguh mengarungi samudera, tetapi juga sebagai peradaban yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti. Kekayaan literasi dan kearifan lokal ini banyak diwariskan secara turun-temurun, baik melalui naskah kuno Lontara maupun melalui tradisi lisan yang dikenal dengan istilah Pappaseng (pesan atau nasihat leluhur).

Dalam membangun hubungan sosial, khususnya persahabatan dan kolaborasi antar sesama manusia, leluhur Bugis memiliki pegangan hidup yang sangat kuat. Hubungan yang baik tidak sekadar didasarkan pada keuntungan materi, melainkan pada ketulusan, kejujuran, dan sikap saling menghargai (Sipakatau).

Bagi Anda yang sedang mencari pencerahan atau ingin menyelami kembali literasi budaya lokal, berikut adalah kumpulan kata bijak atau pepatah Bugis tentang persahabatan dan kehidupan sosial beserta makna mendalam di baliknya:

1. Pentingnya Sinergi dan Niat Baik dalam Berhubungan

“Melleki tapada melle, tapada maminanga, tasiyallabuang.” Terjemahan: Marilah kita menjalin hubungan baik, supaya apa yang dicita-citakan bisa menjadi kenyataan.

Dalam dunia persahabatan modern atau kolaborasi kerja, pepatah ini adalah fondasi utamanya. Makna dari kata bijak ini menegaskan bahwa kesuksesan, baik untuk diri sendiri maupun bersama, selalu melibatkan andil dan campur tangan orang lain. Tidak ada manusia yang bisa sukses sendirian. Oleh karena itu, menjalin tali silaturahmi, memelihara niat baik, dan bersinergi dengan sahabat adalah kunci utama agar tujuan dan cita-cita besar dapat berlabuh menjadi kenyataan.

2. Memilih Sahabat Berkarakter Lurus dan Jujur

“Aju Malurumi riala parewa bola.” Terjemahan: Hanyalah kayu yang lurus dijadikan rumah.

Rumah dalam peribahasa Bugis sering diibaratkan sebagai sebuah ikatan, komunitas, atau bahkan seorang pemimpin. Sementara itu, “kayu” merupakan representasi dari perilaku, sikap, pendirian, dan karakter seseorang.

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png

Dalam konteks persahabatan, pepatah ini mengajarkan kita untuk selektif dalam memilih lingkungan pergaulan. Bangunlah persahabatan dengan orang-orang yang “lurus” hatinya—yakni mereka yang jujur, memiliki integritas, dan tulus. Karakter yang lurus akan menciptakan hubungan yang kokoh, mengayomi, dan saling melindungi layaknya sebuah rumah yang nyaman.

3. Bahaya Pengkhianatan dan Kecerdasan Tanpa Kejujuran

“Naiyya Accae ripatoppoki jekko, aggati aliri, nareakko teyai maredduk, mappoloi.” Terjemahan: Kecerdasan disertai ketidakjujuran seperti tiang rumah, jika tidak lapuk, ia akan patah.

Ini adalah peringatan keras dari leluhur Bugis tentang toksisitas dalam sebuah hubungan. Memiliki sahabat yang pintar dan cerdas tentu menyenangkan, namun jika kecerdasan tersebut dibarengi dengan sifat licik, manipulatif, dan suka berbohong (jekko), maka persahabatan itu hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur.

Kecerdasan tanpa integritas diibaratkan seperti tiang rumah yang cacat. Ia tidak akan mampu menopang beban kepercayaan. Cepat atau lambat, ketidakjujuran akan merusak atau mematahkan tali persaudaraan yang sudah dibangun dengan susah payah.

4. Menghargai Batasan dan Hak Sahabat

“Ajak Mapoloi alona tauwe.” Terjemahan: Jangan memotong hak orang lain.

Persahabatan yang sehat dan langgeng adalah persahabatan yang tahu batasan. Petuah ini mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan keinginan diri sendiri, jangan sampai kita mengambil, merampas, atau menginjak-injak hak orang lain, termasuk hak sahabat kita sendiri. Saling menghargai privasi, tidak saling merugikan secara finansial (seperti dalam urusan utang piutang antar teman), dan menghormati pencapaian masing-masing adalah kunci keharmonisan hubungan sosial.

5. Empati dan Toleransi Terhadap Perbedaan Pandangan

“Olakku kuassukeki, olakmu muassukeki.” Terjemahan: Takaranku kujadikan ukuran, takaranmu kaujadikan ukuran.

Konflik dan adu argumen adalah hal yang lumrah terjadi dalam sebuah ikatan persahabatan. Melalui peribahasa ini, masyarakat Bugis diajarkan tentang pentingnya kedewasaan, empati, dan toleransi. Setiap manusia dilahirkan dengan latar belakang dan jalan pikiran yang berbeda. Oleh sebab itu, wajar jika setiap orang memiliki perspektif, cara pandang, atau “takaran” kebenaran yang berbeda-beda dalam menilai suatu masalah. Seorang sahabat yang baik tidak akan memaksakan “takarannya” kepada orang lain, melainkan berusaha memahami dan mencari jalan tengah dengan kepala dingin.

Kearifan lokal yang terekam dalam kata bijak Pappaseng Bugis ini membuktikan bahwa literasi masa lampau masih sangat relevan untuk diaplikasikan di era digital saat ini. Mari lestarikan dan jadikan pepatah ini sebagai cerminan dalam merawat persahabatan kita!