WhatsApp Icon Gabung WA Bone Terkini
Gabung

BONE, BONETERKINI.ID Mengobati gangguan pencernaan akut melalui Ramuan Tradisional Bugis untuk Diare dan masalah organ dalam seperti limpa merupakan bagian dari khazanah literasi kesehatan yang terekam dalam manuskrip Lontara Pabbura. Dalam naskah kuno tersebut, masyarakat Bugis masa lampau telah memiliki berbagai resep untuk menangani diare biasa (menceret), berak darah, hingga pembengkakan usus. Menariknya, selain menggunakan sediaan cair untuk diminum, naskah ini juga mencantumkan metode aplikasi luar (topikal) untuk mengatasi nyeri pada area limpa.

Pengetahuan yang diwariskan dalam Lontara Pabbura ini menunjukkan pemanfaatan tanaman lokal yang memiliki sifat astringen (pengikat) dan pendingin untuk menstabilkan fungsi pencernaan. Berikut adalah rincian pengobatannya sebagaimana diadaptasi dari catatan naskah tersebut:

Metode Mengatasi Diare dan Berak Darah

Untuk keluhan diare atau menceret, Ramuan Tradisional Bugis untuk Diare menawarkan beberapa pilihan bahan alami yang sangat efektif:

  1. Pucuk Jambu Biji dan Pepaya: Pucuk jambu biji (Psidium guajava) atau pucuk pepaya yang dicampur bawang merah direbus hingga mendidih, lalu airnya diminum. Jambu biji dikenal luas sebagai obat diare karena kandungan taninnya yang tinggi.
  2. Air Kelapa Muda dan Susu Asam: Mengonsumsi air kelapa muda atau susu yang telah asam dipercaya dapat menetralkan kondisi perut yang bergejolak.
  3. Kulit Jamblang dan Majakan: Kulit buah jamblang atau biji majakan (Gallae) ditumbuk halus dan direbus untuk diambil airnya. Bahan-bahan ini bersifat menyerap racun dan menghentikan frekuensi buang air yang berlebihan.
  4. Berak Darah: Untuk kondisi pendarahan, naskah menyarankan penggunaan mustaka yang dipadukan dengan mentega hangat, diminum secara rutin pagi dan sore untuk membantu memulihkan luka di saluran cerna.

Pengobatan Usus Bengkak dan Gangguan Limpa

Masalah pada organ dalam seperti usus dan limpa memiliki penanganan yang sangat unik dalam naskah Lontara Pabbura:

  • Usus Bengkak: Menggunakan campuran susu dan madu yang disimpan selama tiga hari sebelum diminum. Proses pendiaman ini kemungkinan dimaksudkan untuk menciptakan fermentasi alami yang baik bagi kesehatan usus.
  • Sakit pada Limpa: Terdapat dua metode, yaitu meminum ramuan kuma-kuma (Crocus sativus) yang dihaluskan, atau menggunakan metode tempel (padat). Metode tempel menggunakan campuran merica atau kotoran kambing dengan asam cuka yang ditempelkan langsung pada area limpa yang sakit.
  • Limpa Turun: Menggunakan buah pare yang pahit (Momordica charantia). Kulitnya dikupas pada pagi hari, lalu dimasak dengan air untuk diminum airnya.

Menangani Darah Mengalir Tanpa Henti (Iskrum)

Kondisi pendarahan yang tidak kunjung berhenti atau Iskrum ditangani dengan ramuan yang sangat kuat, seperti rebusan majakan yang dimasak hingga airnya tersisa setengah. Selain diminum, cairan ini juga dapat disapukan secara merata pada bagian perut. Bahan lain yang digunakan adalah cendawan muda yang diiris-iris dan dimasak bersama jintan hitam. Metode ganda (diminum dan disapukan) ini bertujuan untuk menghentikan pendarahan dari luar maupun dalam tubuh.

https://boneterkini.id/wp-content/uploads/2026/05/IBONE-GADGET-scaled.png

Menelaah kembali isi naskah Lontara Pabbura menyadarkan kita bahwa kesehatan sistem ekskresi dan organ dalam sangat diperhatikan oleh leluhur kita. Penggunaan bahan yang beragam—dari tanaman, produk hewani (susu/madu), hingga mineral—menunjukkan fleksibilitas masyarakat Bugis dalam memanfaatkan sumber daya alam demi kesembuhan.

Pengetahuan otentik ini adalah permata budaya yang patut kita banggakan. Dengan mendokumentasikan kembali resep-resep dari manuskrip kuno ini, kita menjaga kearifan nenek moyang dalam mengelola kesehatan tubuh melalui cara-cara alami yang telah teruji oleh waktu.