BONE, BONETERKINI.ID – Gempita perayaan Hari Raya Idul Adha kini mulai terasa di berbagai penjuru nusantara. Umat Islam di Kabupaten Bone dan sekitarnya juga tengah bersiap menyambut momen berkurban tersebut. Menjelang hari besar ini, terdapat amalan sunah berlipat ganda yang sangat dianjurkan.
Bulan Dzulhijjah memang dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam penanggalan kalender Islam. Kesempatan emas ini sering dimanfaatkan oleh umat muslim untuk mendulang pahala sebanyak mungkin. Salah satu cara terbaiknya adalah dengan melaksanakan ibadah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.
Kedua ibadah puasa sunah ini dilaksanakan secara berurutan tepat sebelum perayaan Idul Adha. Anjuran berpuasa ini dikhususkan bagi umat muslim yang kebetulan tidak sedang menunaikan ibadah haji. Pasalnya, jemaah haji memiliki rukun ibadah tersendiri yang membutuhkan kondisi fisik prima di Tanah Suci.
Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan awal bulan Dzulhijjah melalui sidang isbat resmi. Keputusan tersebut menetapkan tanggal satu Dzulhijjah jatuh pada hari Senin tanggal 18 Mei 2026. Hal ini menjadi acuan utama bagi masyarakat luas untuk menentukan jadwal pasti puasa sunah.
Merujuk pada ketetapan tersebut, pelaksanaan ibadah puasa Tarwiyah bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah. Jika dikonversi ke penanggalan kalender Masehi, hari pelaksanaannya jatuh pada hari Senin tanggal 25 Mei 2026. Umat Islam sudah bisa melangsungkan niat puasanya sejak malam hari sebelumnya.
Sementara itu, jadwal puasa Arafah dilaksanakan tepat satu hari setelahnya yakni tanggal 9 Dzulhijjah. Hari pelaksanaan tersebut bertepatan dengan hari Selasa tanggal 26 Mei 2026 besok. Waktu pelaksanaannya bersinggungan langsung dengan momentum wukuf para jemaah haji di Padang Arafah.
Keutamaan Besar Ibadah Puasa Tarwiyah
Melaksanakan ibadah puasa di awal bulan Dzulhijjah merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Sang Pencipta. Berdasarkan riwayat, puasa Tarwiyah memiliki akar sejarah dari kisah ketaatan Nabi Ibrahim AS. Kata Tarwiyah sendiri memiliki makna merenung atau berpikir mendalam mengenai ketaatan pada perintah Tuhan.
Nilai keutamaan dari berpuasa pada hari kedelapan Dzulhijjah ini sangatlah luar biasa. Umat muslim yang ikhlas mengerjakannya dipercaya akan mendapatkan ganjaran berupa penghapusan dosa. Dosa-dosa yang diampuni tersebut mencakup segala kelalaian selama satu tahun penuh yang telah berlalu.
Tentu saja kesempatan ini menjadi momen refleksi diri yang sangat berharga bagi setiap individu. Seseorang bisa membersihkan lembaran amalannya sebelum memasuki hari raya penyembelihan kurban. Ibadah ini juga melatih tingkat kesabaran seseorang dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Keistimewaan Puasa Arafah Sebagai Penggugur Dosa
Berlanjut ke hari kesembilan, ibadah puasa Arafah menyimpan keutamaan yang jauh lebih besar lagi. Ibadah ini sangat ditekankan bagi umat Islam yang belum memiliki kesempatan berangkat ke Makkah. Bagi jemaah haji sendiri, berpuasa pada hari wukuf justru berhukum makruh agar mereka tetap bertenaga.
Keistimewaan utama dari puasa Arafah terletak pada jaminan pengampunan dosa dari Allah SWT. Sebuah hadis sahih riwayat Muslim menyebutkan bahwa puasa ini mampu menghapus dosa selama dua tahun sekaligus. Pengampunan tersebut meliputi penghapusan dosa setahun ke belakang dan setahun ke depan.
Janji ganjaran pahala yang sangat masif ini menjadikannya ibadah sunah yang paling dinantikan setiap tahunnya. Selain menghapus dosa, puasa ini juga dipercaya mampu meninggikan derajat seorang hamba di sisi penciptanya. Oleh karena itu, umat muslim di Bone diimbau untuk tidak menyia-nyiakan momentum emas tahunan ini.
Tata Cara Pelaksanaan Sesuai Syariat
Secara umum, rukun dan tata cara pelaksanaan kedua puasa sunah ini sama persis dengan puasa wajib. Semuanya harus diawali dengan niat suci yang diucapkan di dalam hati maupun dilafalkan secara lisan. Niat tersebut sudah bisa dibaca mulai malam hari hingga sesaat sebelum masuk waktu salat Zuhur.
Syarat sah lainnya adalah seseorang belum menyantap makanan atau minuman sejak fajar menyingsing jika baru meniatkan diri pada siang hari. Menjalankan santap sahur pada sepertiga malam terakhir juga sangat dianjurkan oleh panduan Rasulullah SAW. Selain mendatangkan keberkahan ibadah, sahur sangat membantu menjaga stamina tubuh selama beraktivitas seharian penuh.
Selama berpuasa, umat Islam diwajibkan menahan diri dari segala bentuk hal yang dapat membatalkannya. Menahan emosi, menjaga lisan dari perkataan buruk, serta mengendalikan nafsu amarah juga menjadi esensi penting ibadah ini. Saat waktu Magrib tiba, umat muslim disunahkan untuk segera membatalkan puasanya dengan hidangan manis.
Panduan Bacaan Niat Puasa Tarwiyah
Membaca niat merupakan syarat mutlak agar ibadah puasa seorang muslim dianggap sah secara syariat. Bagi Anda yang ingin melaksanakan puasa pada hari kedelapan Dzulhijjah, lafal niatnya cukup singkat. Niat ini dibaca secara khusus untuk pelaksanaan ibadah puasa Tarwiyah saja.
Lafal bahasa Arab latinnya berbunyi “Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta’âlâ”. Arti dari kalimat tersebut adalah penegasan niat seseorang untuk berpuasa sunah Tarwiyah semata-mata karena Allah Ta’ala. Membaca niat ini dengan tulus akan memantapkan langkah seorang hamba dalam menjalankan ibadahnya.
Panduan Bacaan Niat Puasa Arafah
Sementara itu, bacaan niat untuk berpuasa pada hari kesembilan Dzulhijjah memiliki sedikit perbedaan diksi. Anda bisa melafalkannya saat malam hari sesudah salat Isya atau sewaktu menyantap hidangan sahur. Pengucapan niat yang benar ini menjadi gerbang pembuka dimulainya ibadah puasa Arafah.
Adapun bacaan latinnya berbunyi “Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ”. Makna harfiah dari lafal ini adalah pengungkapan niat secara sadar untuk menunaikan puasa sunah Arafah karena Allah Ta’ala. Kesungguhan hati dalam berniat dipastikan akan berbanding lurus dengan kualitas ibadah yang dihasilkan esok harinya.
Manfaat Tambahan untuk Kesehatan Tubuh
Di balik pahala rohani yang berlimpah, serangkaian ibadah puasa di bulan Dzulhijjah juga membawa dampak positif secara medis. Menahan asupan makanan dan minuman dari terbit fajar hingga matahari terbenam memberikan waktu istirahat sejenak bagi organ pencernaan. Proses jeda ini kemudian memicu detoksifikasi alami di mana tubuh perlahan mengeluarkan zat racun sisa metabolisme.
Kondisi organ tubuh yang kembali sehat dan bugar tentu menjadi modal berharga dalam menyambut perayaan Idul Adha. Warga bisa kembali menikmati aneka hidangan daging kurban bersama keluarga inti dengan kondisi fisik yang jauh lebih prima. Keseimbangan harmoni antara kesehatan jasmani dan kedamaian rohani inilah yang menjadi buah manis dari ketaatan beribadah.



