Lebih mengejutkan lagi, muncul isu mengenai ketiadaan pemeran pengganti (body double) untuk adegan-adegan yang dianggap berisiko atau sensitif. Putri, rekan dari Reza yang juga mewakili tim produksi, mengungkapkan fakta yang bertolak belakang dengan asumsi publik.
“Tim produksi sebenarnya sudah sangat kooperatif dan menyiapkan body double untuk adegan tersebut, tapi dia sendirilah yang menolaknya secara sadar. Dia enggak pernah mau pakai pemeran pengganti karena dia bilang, ‘Aku bisa kalau cuma kayak gitu aja’,” ungkap Putri merinci kejadian di lapangan.
Pihak HAS Pictures menilai penolakan promosi ini merupakan kerugian besar bagi pihak production house. Sebagai salah satu pemeran utama, kehadiran Ratu Sofya dalam setiap roadshow dan wawancara media adalah ujung tombak pemasaran film. Reza pun merasa heran dengan perubahan sikap Ratu yang dinilai berubah sangat drastis, terutama setelah aktris tersebut dikabarkan tengah menjalin hubungan asmara dengan seseorang belakangan ini.
Perjalanan Karier: Dari Model Remaja hingga Bintang Layar Lebar
Terlepas dari polemik yang sedang bergulir, sepak terjang Ratu Sofya di industri hiburan Indonesia memang patut diperhitungkan. Ia mengawali kariernya sebagai seorang model yang kerap menghiasi berbagai sesi pemotretan sebelum akhirnya memantapkan langkah merambah ke dunia seni peran.
Debut aktingnya di kancah layar lebar dimulai melalui film Satria Heroes: Revenge of Darkness pada tahun 2017. Namun, titik balik yang membuat namanya meroket dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia adalah ketika ia memerankan karakter Lili dalam sinetron fenomenal Dari Jendela SMP. Kemampuannya mengaduk emosi penonton lewat karakter antagonis dan protagonis membuatnya kebanjiran tawaran akting.
Sejak saat itu, Ratu rutin wara-wiri tampil dalam berbagai judul film dan serial bergengsi. Beberapa karya menonjolnya termasuk DJS the Movie: Biarkan Aku Menari (2022) hingga keberaniannya mengambil peran menantang dalam film horor Siksa Neraka (2023) yang sukses meneror bioskop Tanah Air.



