BONE, BONETERKINI.ID – Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti lapangan utama UPT SMAN 5 Bone, Senin 30 Maret 2026. Angkatan 42 yang menamakan diri PATTOWARANI 42 menggelar prosesi Last Ceremony yang dirangkaikan dengan pembukaan Pagelaran Seni bertajuk AKSARA, menghadirkan perpaduan kuat antara seni modern dan kearifan budaya Bugis Bone.
Kegiatan ini menjadi penanda akhir perjalanan sekolah sekaligus ruang ekspresi budaya bagi para siswa. Mengusung konsep keagungan tradisi Bugis serta semangat perjuangan Arung Palakka, pagelaran tersebut berhasil menarik perhatian ratusan peserta dan tamu undangan yang memadati area acara sejak siang hari.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala UPT SMAN 5 Bone, Andi Harbin Nur. Dalam sambutannya, ia menyampaikan kebanggaan terhadap Angkatan 42 yang dinilai mampu menghadirkan nilai pendidikan karakter melalui seni dan budaya.

“Hari ini, kalian bukan sekadar menyelesaikan masa sekolah, tapi kalian sedang membuktikan bahwa jati diri Bugis Bone—Siri’ na Pesse—melekat kuat dalam kreativitas kalian. Teruslah menjadi ‘Aksara’ yang bermakna di mana pun kalian berpijak,” ujarnya saat meresmikan kegiatan.
Turut hadir Pengawas Pembina, Awalia Mustafa, yang selama ini mendampingi proses akademik dan pembinaan karakter siswa. Ia memberikan apresiasi atas konsistensi Angkatan 42 dalam menjaga semangat berkarya hingga akhir masa pendidikan.
“Melihat Angkatan 42 PATTOWARANI hari ini, saya melihat masa depan Bone yang cerah. Kalian telah berhasil merawat ‘Aksara’ semangat dalam diri kalian hingga menjadi karya yang luar biasa. Jagalah marwah ini sebagai modal kalian menaklukkan dunia luar,” tuturnya.
Atmosfer acara semakin terasa sakral ketika panggung AKSARA dibuka dengan atraksi Mangaru, sebuah tradisi yang melambangkan sumpah setia dan keberanian. Penampilan tersebut langsung menggetarkan penonton di bawah terik matahari siang.
Rangkaian pertunjukan kemudian berlanjut dengan berbagai penampilan seni yang sarat nilai budaya. Tari Massal tampil megah dengan koreografi kolosal, disusul Tari Macora yang anggun serta Drama Tari yang mengangkat pesan sejarah dan identitas lokal. Penonton juga disuguhkan harmoni Paduan Suara, Tari Imangkawani yang menampilkan ketangguhan srikandi, hingga penampilan modern seperti Tari India, Modern Dance, dan pidato inspiratif dari siswa.
Momen paling emosional terjadi ketika Djibril Omar Malakut, Ketua Angkatan 42 sekaligus Purna Ketua OSIS, menyampaikan pidato terakhirnya di hadapan seluruh peserta. Ia menegaskan filosofi perjuangan yang menjadi identitas angkatan mereka.
“Pattowarani bukan sekadar nama, tapi janji. Seperti Arung Palakka yang tak pernah surut dalam perjuangan, kita Angkatan 42 harus berani menuliskan takdir kita sendiri. Terima kasih UPT SMAN 5 Bone telah menjadi rahim tempat kami ditempa menjadi petarung sejati,” ungkapnya.
Pagelaran seni ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga simbol estafet nilai budaya kepada generasi muda. Melalui konsep AKSARA, siswa menunjukkan bahwa modernitas dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi lokal.
Panitia pelaksana memastikan rangkaian acara masih akan berlanjut pada malam puncak dengan konsep pertunjukan yang lebih spektakuler. Jika siang hari diwarnai nuansa sakral tradisi, malam nanti dijanjikan menghadirkan pertunjukan penuh cahaya dan kreativitas sebagai penutup perjalanan Angkatan 42.
UPT SMAN 5 Bone hari itu menjadi saksi lahirnya generasi muda yang tidak hanya menuntaskan pendidikan formal, tetapi juga membawa identitas budaya sebagai bekal melangkah ke masa depan.

